Thursday, 8 November 2012

Gundah Sang Bungsu

Malam ini mataku sulit untuk mengikhlaskan diri dan menutup kelopaknya. Ada rasa gundah disana yang belum terobati.

Mungkin ini hanya intuisi seorang perempuan, namun nyatanya aku merasakan sesuatu di luar ruang ini yang terbaring linglung dan bingung karena rasa yang tidak lengkap. Ada kekosongan di suatu ruang dalam jiwa yang di luar sana, berubah menjadi sebuah tanda bahwa ruang itu merindukan diriku di dekatnya. Apakah rasa itu datang dari Bapak Tua Keparat itu? Entah.. Narsisme diri tak seharusnya jadi bahan pertimbangan.

Hey Bapak, yang telah tua namun masih keparat karena egoisnya. Sudah lelapkah engkau di pinggir ranjang hotel di Porong sana? Masihkah kau memikirkan aku, anak terkecilmu yang telah kau buang sejak sebulan yang lalu?

Aku memang telah mencoba ikhlas sebagai obat, obat atas segala kesakitan yang kau sebabkan bahkan hingga detik ini aku bernafas. Tapi aku memang tak bisa pungkiri bahwa makianmu aku rindukan, pukulanmu aku dambakan. Sebuah kekasaran menjadi salah satu bentuk cinta yang tak kunjung terjelaskan maknanya.

Terima kasih atas gundah ini, semoga kau bisa tidur lelap malam ini dalam lelahmu, Ayah.

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.