Monday, 8 October 2012

MDD (Major Depressive Disorder)

Sebuah gangguan yang kini aku alami setelah sekian lama merasa tertekan di dalam bangunan yang dulu kusebut "rumah". Pada tanggal 4 Oktober 2012, papa akhirnya mengetuk palu dan mengatakan padaku bahwa aku tidak boleh pulang ke rumah (pencetusnya adalah tindakanku yang enggan pulang ke rumah itu hingga pagi menjelang). Aku terpukul namun aku tak mampu bereaksi sebagaimana wajarnya, aku tak menangis, tak pula tersenyum atau tertawa. Aku hanya diam, lalu meninggalkan warung kopi di daerah Kutek dengan tatapan kosong.

Aku sempat berpikir untuk menabrakkan sepeda motor yang aku kendarai dalam kecepatan tinggi, entah sasarannya apa. Aku cuma ingin mengakhiri semuanya. Lalu entah apa yang aku terbesit, akhirnya aku mengendarai sepeda motorku menuju rumah seorang perempuan, perempuan yang aku hormati, tanteku.

Tak lama sebelum aku sampai di sana, telpon genggamku terus berdering, telpon itu berasal dari tanteku. Aku tak menjawab telpon itu, aku biarkan tanpa bergeming sambil melaju ke rumahnya. Begitu sampai di sana, aku ceritakan semuanya. Kembali, ada tatapan kosong di sana yang tak bisa ku jelaskan. Sudah nyaris 24 jam aku tidak tidur, lalu dia membiarkan aku beristirahat di ranjangnya.

Entah sudah berapa jam, tak sengaja aku kembali terjaga, namun aku tak membuka kelopak mataku. 
Tiba-tiba sebuah imajinasi menguak.. Di mataku, aku bisa melihat diriku menjambak rambut papa, tubuhnya sudah terkulai, matanya sayu. Lalu dengan tanganku yang lain (yang sudah menggenggam pisau tajam), aku menggorok leher papa. Tak ada ekspresi di sana, wajahku datar, tatapanku kosong. Seketika muncratan darah muncul dari leher yang tak lagi berkepala, memberikan corak merah berdarah pada wajahku. Dan aku masih tak menunjukkan ekspresi apa pun pada raut mukaku. Aku langsung membuka kelopak mataku..

Apa itu? Kenapa aku bisa membayangkan sesuatu yang kejam dan sadis seperti itu? Pastilah sesuatu yang tak beres terjadi. Ketika aku membangunkan ragaku, aku tak lagi berpikir untuk pergi ke kampus, aku langsung minta untuk pergi ke psikiater pada tanteku, dia pun mengizinkan.

Sesampai di psikiater, kembali aku ceritakan semuanya (pola tidur yang berubah, pola makan yang tak lagi teratur, pribadi yang cenderung sensitif & mudah tersinggung), juga imajinasi sadisku yang akhirnya berseliweran kemana pun aku pergi. Dia pun akhirnya menetapkan kondisiku: aku menderita depresi tingkat menengah atau MDD. Dia mengatakan bahwa salah satu usaha untuk menyembuhkan hal ini adalah family therapy, karena sesungguhnya permasalahan utamaku terletak pada keluarga. Sebagai usaha sampingan, dia memberiku 2 jenis obat (benzodiazepine & antidepressant). Setelah konsultasi, aku tak kembali ke rumah tanteku, intuisiku membawa diriku pada keponakanku yang masih berumur satu tahun, intuisiku mengatakan bahwa dia lah yang mampu membuka kunci brankas emosiku yang selama ini terkunci rapat.

Kala aku cerita kepada kakak iparku ditemani sang keponakan, aku menatap mata balita itu lekat-lekat, matanya yang masih naif seolah-olah mempreteli gembok emosiku dan membiarkan emosiku meledak keluar di hadapannya hingga membuat kakak iparku kaget. Air mata yang selama ini tertahan (tak jelas apa sebabnya), semua keluar sampai membuatku berteriak, meski bisu tanpa suara. Keponakanku pun seolah paham kepedihan yang ada di sekitarnya, sejenak matanya menunjukkan rasa iba kepadaku. Aku memeluk keponakanku dengan erat sambil berkata, "Jangan sampai kaya kakek ya, Nak."

Hujan turun, namun aku tak peduli, aku kembali menembus jalanan basah menuju rumah tanteku. Basah kuyup, dingin, dan suara serak yang menghilang dari tenggorokan dirasa tak lagi mengganggu, yang mengganggu hanyalah rindu. Rinduku pada kemampuan untuk berekspresi (mengeluarkan emosi) yang seketika menghilang tanpa aku tahu sebabnya. Bahkan rinduku pada Sang Nona pun tak mampu lagi aku rasakan, semua hanya kata-kata semu.

Aku mati, mati rasa, mati hati.
Tolong aku.

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.