Aku sadar bahwa kau tak lagi muda, tertatih-tatih memimpin keluarga ini.
Merutinkan diri hingga malam lelah dan peluh menjengah tubuh.
Dulu dan kini, sepi sering aku rasakan. Ragamu tiada, cintamu terasa semu.
Namun ada satu memori yang masih tersimpan lekat di otakku...
Ingatkah engkau?
Sering kita habiskan Minggu pagi bersama, berdua saja.
Duduk bersama, menikmati satu dua mangkuk bubur ayam.
Sering di tempat, kadang di rumah.
Hanya sebuah perjalanan kecil, tak jauh dari rumah.
Aku masih cilik, hanya ingat sedikit.
Aku duduk di pangkuanmu, tertawa riang.
Kau izinkan aku menggenggam setir kendali.
Kurasakan dekapan hangat sosok seorang papa.
Ada nyaman, ada aman, ada cinta.
Hanya sebuah pelukan kecil, tak perlu usaha banyak.
Makan bersama, kau usap butir yang tertinggal.
Kau selalu menggandengku, melindungiku.
Dan kebahagiaan yang sama akan berulang, pulang.
Aku rindu, rindu kepada Papa Bubur Ayamku.
Dan aku muak, muak dengan Papa Kepala Anggaran Rumah Tangga itu.
Dimana sosok itu dulu dan kini, Pah?
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.