Bagi mereka yang merasa dekat padaku tapi tak pernah bertanya siapa aku.
Inilah aku. Seorang perempuan yang kalian kira lugu dan damai.
Sesungguhnya aku menyimpan gejolak, amarah dan dendam yang tertahan sejak lama.
Dan kini semuanya membeludak, tumpah ruah di ruang maya ini tanpa peduli siapa.
Aku memang luka, lalu kemana saja kalian selama ini?
Ketika aku mencoba meminta pertolongan, kemana kalian semua?!
Semua pengetahuan kalian palsu! Tak ada yang sungguh-sungguh tahu.
Jangankan tahu, pengertian pun mungkin mustahil diraih.
Bagai pahlawan kesiangan, kalian tiba-tiba datang sok menolong.
Semua sudah terlambat! Aku sudah begini, aku sudah begitu.
Ya, akulah seorang perempuan yang berempu dan berpuan.
Aku punya pilihanku sendiri, jangan kalian berani mencuci otakku!
Aku manusia bebas, bukan tahanan perang. Aku punya pilihan, bukan budak jahiliyah.
*****
Ya, aku menyukai lawan jenis, dan juga sesama jenis. Kenapa?
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang selalu tiada kala aku ingin bertanya!
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang memisahkan aku dari rahimku!
Ya, aku tak lagi seorang Islam, tak juga memeluk agama apapun. Kenapa?
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang dulu tak pernah mengajariku kala kecil!
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang hanya mampu komat-kamit lalu berdakwah!
*****
Kini kalian menyerbu tanpa izin.
Membaca lalu seolah paham apa isi pikiranku.
Bicara! Jangan kalian hanya mampu membaca!
Kalian kira aku hanya patung?!
Kalian kira aku hanya binatang?!
Kalian kira aku hanya seorang kecil?!
Aku punya pikiran! Aku punya iman! Aku punya hati!
Jangan salahkan aku bila aku berontak.
Semua sudah terlambat. Kalian terlambat.
Benakku tak akan kalian kenal.
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang memisahkan aku dari rahimku!
Ya, aku tak lagi seorang Islam, tak juga memeluk agama apapun. Kenapa?
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang dulu tak pernah mengajariku kala kecil!
Tanyakan dia! Tanyakan dia yang hanya mampu komat-kamit lalu berdakwah!
*****
Kini kalian menyerbu tanpa izin.
Membaca lalu seolah paham apa isi pikiranku.
Bicara! Jangan kalian hanya mampu membaca!
Kalian kira aku hanya patung?!
Kalian kira aku hanya binatang?!
Kalian kira aku hanya seorang kecil?!
Aku punya pikiran! Aku punya iman! Aku punya hati!
Jangan salahkan aku bila aku berontak.
Semua sudah terlambat. Kalian terlambat.
Benakku tak akan kalian kenal.
Bacalah! Bacalah! Baca seolah kalian mengerti apa yang aku katakan!
Rasakan! Resapi! Rasakan seolah kalian jalani hidupku!
Kenapa kalian tak biarkan aku mengelana dahulu?
Biarkan aku mengenal dunia dan segalanya, baik dan buruk.
Jangan kalian halangi aku dengan dogma kalian yang “paling benar”!
Aku bukan lagi seorang kecil! Aku mampu berpikir!
Kalau kalian masih menganggap perbedaan sebagai sebuah penyimpangan,
maka kalian tak lebih dari sekedar substansi tak logis yang enggan aku jamah.
Maaf, kalian boleh sebut aku arogan, kalian boleh sebut aku angkuh.
Tapi jika kalian ingin merubahku, setarakanlah diri kalian,
sehingga takkan percuma segala caci-maki dan makian itu.
maka kalian tak lebih dari sekedar substansi tak logis yang enggan aku jamah.
Maaf, kalian boleh sebut aku arogan, kalian boleh sebut aku angkuh.
Tapi jika kalian ingin merubahku, setarakanlah diri kalian,
sehingga takkan percuma segala caci-maki dan makian itu.
P.S:
Untuknya, sang sipir neraka duniawiku. Kau sama dengan mereka, hanya karena aku hidup dibawah atapmu, kau anggap aku milikmu? Kau anggap aku benda?! Kau anggap aku tak mampu berpikir?! Terkutuklah kau sebagai orang tua yang gagal mendidik anaknya!
Untuknya dan mereka, aku sadar kalian menyayangiku, aku sadar kalian peduli padaku. Tapi apakah tindakan yang memaksa diriku menjadi sesuatu yang bukan diriku dan membuatku tak nyaman adalah bentuk kasih sayang kalian? Apakah hanya karena seorang manusia ingin diterima apa adanya dengan segala latar belakangnya yang berbeda (beragama atau tidak beragama; heteroseksual, biseksual, atau homoseksual; liberalis atau konservatif) di keluarganya sendiri, kalian mengucilkannya dari kalian? Keluarga apa itu? Apakah patut itu disebut keluarga?
Untuknya, begitu dinginkah hatimu hingga tak mampu menerima gadis kecilmu dengan hangat dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Sedangkan aku, sang gadis kecilmu, yang selalu harus bisa menutup suara, membisu kala kau bergejolak. Tak heran aku tumbuh sepertimu, kaku dan dingin, bahkan tak mampu mengatakan secara langsung kepada siapa pun tentang apa yang ada di pikiranku. Sejak dulu, kau jauh. Egomu yang inginkan seorang anak yang “normal” selalu mendorongmu untuk berkeras padaku, tak ingatkah kau bahwa setiap darah yang mengalir padaku adalah darahmu juga? Tak ingatkah kau? Dan semakin kau berkeras, semakin kau mendorong, semakin keras juga aku mencoba mengubah diriku menjadi seseorang yang bukan diriku, seseorang yang palsu.
Apakah itu yang kau inginkan, pah?
Untuknya, sang sipir neraka duniawiku. Kau sama dengan mereka, hanya karena aku hidup dibawah atapmu, kau anggap aku milikmu? Kau anggap aku benda?! Kau anggap aku tak mampu berpikir?! Terkutuklah kau sebagai orang tua yang gagal mendidik anaknya!
Untuknya dan mereka, aku sadar kalian menyayangiku, aku sadar kalian peduli padaku. Tapi apakah tindakan yang memaksa diriku menjadi sesuatu yang bukan diriku dan membuatku tak nyaman adalah bentuk kasih sayang kalian? Apakah hanya karena seorang manusia ingin diterima apa adanya dengan segala latar belakangnya yang berbeda (beragama atau tidak beragama; heteroseksual, biseksual, atau homoseksual; liberalis atau konservatif) di keluarganya sendiri, kalian mengucilkannya dari kalian? Keluarga apa itu? Apakah patut itu disebut keluarga?
Untuknya, begitu dinginkah hatimu hingga tak mampu menerima gadis kecilmu dengan hangat dengan segala kelebihan dan kekurangannya? Sedangkan aku, sang gadis kecilmu, yang selalu harus bisa menutup suara, membisu kala kau bergejolak. Tak heran aku tumbuh sepertimu, kaku dan dingin, bahkan tak mampu mengatakan secara langsung kepada siapa pun tentang apa yang ada di pikiranku. Sejak dulu, kau jauh. Egomu yang inginkan seorang anak yang “normal” selalu mendorongmu untuk berkeras padaku, tak ingatkah kau bahwa setiap darah yang mengalir padaku adalah darahmu juga? Tak ingatkah kau? Dan semakin kau berkeras, semakin kau mendorong, semakin keras juga aku mencoba mengubah diriku menjadi seseorang yang bukan diriku, seseorang yang palsu.
Apakah itu yang kau inginkan, pah?
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.