Wednesday, 27 June 2012

Sebuah Catatan Kegalauan

Terkadang menjadi galau a.k.a resah itu nikmat, karena itu adalah sebuah kemewahan yang jarang bisa kita rasakan setiap saat. Ditemani malam sunyi di pinggir danau dan sinar bulan yg msh berbentuk setengah lingkaran, menyelami asap rokok pekat yg menghidupi raga. Sebuah ketenangan dialami seorang perempuan ditengah kesunyian malam. Nada-nada minor mengisi telinganya..

Rasa galau patut disyukuri karena kita sebagai manusia masih diberi kemampuan untuk merasakan resah yang memberi bumbu kehidupan. Ketika seorang manusia terlalu sering dibalut kesederhanaan emosi, rasa galau yg muncul dirasakan bagai sebuah kenikmatan tersendiri..

Malam ini, setelah sekian lama, aku dihampiri oleh sang galau. Menarikku ke dalam pelukan hangatnya, cumbui aku dengan keresahannya.

Sesaat melupakan apa makna kebahagiaan dalam hidup, lalu mengingat segala kepedihan, keresahan, dan kesesatan yg telah terjadi begitu saja..

Rasanya ingin mencakar-cakar tubuh ini, menjambak rambut ini, menampar diri ini. Semua perih ini meracun lalu berubah jadi nikmat.

Bunuh saja raga ini, tusuk saja jantung ini. Bakar aku dan sebarlah abuku di Laut Mati. Dalam seketika, semua perjuangan jd tak punya makna.

Dalam sekejap, semua berubah jadi ilusi. Dalam seketika, semua musnah. Bunuh saja aku, bunuh! Lepaskan aku dr segala materi dependen ini!

Aku menggalau, bicaranya pun meracau. Tak ada lagi kicau, semua tak lebih dari sekedar pengacau. Tuhan, kirimlah aku ke Makau! Buang saja aku dari linimu, buang saja aku dari fanamu, buang! Biarkan jiwa ini bebas meracap pergi menuju diri-Nya.Jiwa ini ringan bagai kapas, bersantai kala nikmati tapas. Menghilang tiap kali aku bernapas, bebaskan diriku dari sel lapas.

Tuhan, tunggulah aku di atas!

Tak ada lagi cinta, tak ada lagi duka, tak ada lagi cerita. Aku hanya ingin berada dengan-Mu. Bebaskan diriku! Bebaskan! Pedihnya merayuku, buatku pasrah tanpa perlawanan. Buat diri ini kaku, lalu menerbangkan aku ke atas awan.

Ya, aku memang sedang resah, maaf kalau aku menyampah. Yang aku ingin hanyalah wadah.

Seorang gembel mengaku filsuf pernah mengatakan: jiwa akan selalu ingin bebas, bebas dari materi & bentuk, menuju kepada Dunia Idea. Mungkin dia bohong, mungkin dia jujur. Tapi itulah yang dirasakan jiwa ini. Sucikan aku, murnikan aku. Aku hanya ingin pulang. Berjelaga di tengah elegi, tanpa tenaga menuju pagi. Aku memang tak ada yg menjaga, semata-mata karena Dia pernah pergi. Sungguh baik diri-Mu, kini napasku pun memburu, menipis dan berat karena kau sedang menjemputku.

Ada galau oleh cinta, ada galau oleh uang, ada galau oleh seks. Tapi galau ini hanya galau, titik.
Suicidal, yes, it is. Feels like it. Taste like it. It is.

- Chrisantina Pesarona (30 Mei 2012) ditemani oleh lagu-lagu Dini Budiayu

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.