Lama rasanya aku terpisah dari lembaran-lembaran maya di sini. Kali ini aku akan membeberkan sebuah cerita terkait sebuah perubahan yang cukup signifikan dalam hidupku. Rasanya mungkin sedikit sepele bagi beberapa dari kalian, tapi yaa ini hanya sekedar celoteh di atas lembaran maya..
Kurang lebih 1 bulan yang lalu, aku mulai mengenal seorang perempuan yang (entah kenapa) kembali membangkitkan rasa ketertarikanku kepada sesama jenis. Ya, aku kembali menjadi seorang biseksual.
Dahulu kala ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, aku naksir kepada seorang perempuan sebaya, seorang teman dan juga lawan yang sering kali menimbulkan percikan kekerasan fisik dan mental di antara kami berdua meski (biasanya) pada akhirnya kami akan rujuk kembali dan peduli satu sama lain. Namun rasa ketertarikan itu sirna karena tuntutan sosial dari kawan-kawan yang lain, mereka mengatakan bahwa hal itu salah dan menyimpang, bahwa itu tidak seharusnya terjadi padaku, bahwa aku seharusnya naksir kepada lawan jenis.
Akhirnya ketertarikan itu pun coba aku kubur dalam-dalam, bahkan aku hilangkan dari perbincangan dan benak sehari-hari..
Masa-masa setelah itu berjalan "sebagaimana mestinya", aku berpacaran dengan lawan jenis, bercumbu dan bercinta dengan mereka, merasakan indahnya direngkuh oleh kejantanan seorang lelaki, merasakan suka dan duka yang terkait dengan mereka.
Semuanya cukup menarik bagiku hingga perempuan itu akhirnya datang, seorang atheis biseksual yang cukup out-spoken di jejaring Twitter. She has this personality which attracts me so bad till it makes me want to fuck her even though I got no penis hahaha.. Tapi sekali lagi, itu hanyalah ketertarikan seksual semata, dia mengagumkan dan sangat menarik secara seksual namun karena aku tak merasakan chemistry yang benar-benar cocok, aku tidak berpikir untuk melanjutkan perkembangan ketertarikan tersebut.
Di tengah-tengah ketertarikan itu, aku mendeklarasikan orientasi seksualku kepada khalayak di jejaring Twitter, menyatakan bahwa aku seorang biseksual dan sedang berminat untuk menjalin hubungan emosional yang "agak" serius dengan sesama jenis.
Dari pengalamanku, aku sudah cukup jengah dengan para lawan jenis yang tidak bisa diandalkan dari segi psikologis dalam membina suatu hubungan. Mereka jadi terasa tak lebih dari sekedar kolega atau partner yang membantuku memenuhi kebutuhan birahi dan kebutuhan spiritualku. Bisa dibilang, aku tak lagi berminat untuk membina hubungan yang lebih serius daripada bed-partnership dengan lawan jenis. Maka dari itu, aku berpaling kepada sesama jenis.
Tak disangka-sangka, perempuan kedua datang..
Dia pada awalnya merupakan seorang sahabat karib, seorang perempuan yang senasib denganku, dia telah menjelajahi dunia bed-partnership melebihi diriku, dan dia seringkali mengeluhkan bahwa dirinya sudah jenuh dan ingin menjadi sosok perempuan yang diakui oleh pasangannya. Sayangnya.. aku melihat bahwa pelanggaran paling dasar yang dia lakukan lah yang menjadi dasar penyebab kenapa dia menjadi merasa bosan terhadap dunia bed-partnership, dia melibatkan perasaan dan hati dalam partnership yang dia bina dengan para lelaki itu, dan tiap kali itu pula dia pada akhirnya patah hati karena mereka tak lebih dari pria-pria bajingan yang memanfaatkan dirinya.
Aku pada awalnya hanya bersikap protektif pada perempuan kecil ini, mencoba menjaganya layaknya seorang abang terhadap adik kecilnya, namun lambat laun.. perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang bersifat romantis dan bukan sekedar afeksi abang-adik semata. Seolah-olah senyumnya menjadi kebahagiaan tersendiri, begitu pun sedihnya, yang menjadi kesenduan tiap kali aku mendengar ceritanya.
Dia begitu rapuh dan rentan, membuatku ingin menjaga dan melindunginya. Rasa itu berkembang jauh, sangat jauh, aku bahkan tak menyadarinya. Pada suatu malam ketika kami menyaksikan penampilan band kesukaan kami berdua, aku akhirnya sadar, aku jatuh cinta kepadanya, kepada sang Nona. Dia selalu mampu menurunkan egoku, menenangkanku tiap kali aku nyaris lupa diri kala aku marah, mengobati lelahku, menyadarkan diriku bahwa aku seorang dewasa yang seharusnya bisa mengontrol diri dan merawat mereka yang sepatutnya dirawat.
Aku mencoba untuk selalu ada baginya, dikala dia senang dan dikala dia sedih. Menemani kebahagiaan dan kesedihannya. Beberapa kali aku menanyakan tentangku kepada dirinya, apakah dia merasa nyaman dan aman berada di sisiku, dia pun menjawab dengan begitu hangatnya dan mengatakan "iya". Cintaku membuncah, meluap-luap bagai letupan lumpur Lapindo yang membeludak ke seluruh penjuru. Sang Nona seolah-olah berhasil membuka sebuah kotak euforia yang telah lama terkubur oleh lumpur di pojok pikiranku. Ya kawan, aku jatuh cinta kepada Sang Nona.
Namun satu dilema muncul..
Aku tidak ingin dia berubah, aku tidak ingin dia menjadi seorang lesbian atau menjadi seperti aku, seorang biseksual. Alasanku adalah bahwa aku tidak ingin merubah sedikit pun apa-apa yang ada pada dirinya, termasuk orientasi seksualnya, aku jatuh cinta dia kepadanya semata-mata karena apa adanya dia, seorang gadis kecil yang selalu membuatku tersenyum tiap kali dia melontarkan celotehannya kepadaku.
Jika dia pada akhirnya menerima diriku, secara otomatis dia akan berubah, dan aku tak inginkan itu. Oh Tuhan.. sungguh.. aku tak ingin dia berubah karenaku.
Dan ternyata sebuah berita yang agak mengecewakan datang.. Dia bertemu seorang pria, pria yang kebetulan sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun dan pada akhirnya menerima Sang Nona sebagai kekasihnya. Keinginan Sang Nona akhirnya tercapai, dia akhirnya menjadi seorang kekasih yang diakui, dan aku (meski agak sedikit kecewa) ikut tersenyum bersamanya. Semoga pria itu sungguh-sungguh dengan apa yang telah dia perbuat, karena aku takkan segan untuk merebut Sang Nona dari pelukannya jika aku mendengar tangis miris dari Sang Nona akibat kelakuannya.
Semoga mereka bahagia, dan aku pun kembali dalam perjalananku, mencari cinta diantara sesama jenis.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.