Ada kengerian tertentu menjalar dalam nadi
Berikan rasa tak nyaman hingga ke hati
Aku duduk seolah-olah menunggu mati
Dia ternyata tak kunjung datang meski dinanti
Kedalaman yang tak pernah kurasakan
Menyelam hingga ujung angan-angan
Entah sampai mana ada kenangan
Aku terus rakus nikmati dimakan
Euforia mulai menghilang sejenak
Tak peduli meski aku merasa enak
Aku hanya menatap seorang anak
Menunggunya membaca sebuah almanak
Kantuk mulai datang merayu
Buat diriku terasa mendayu-dayu
Tak lagi kulihat gadis-gadis ayu
Yang ada hanyalah pintu dari kayu
Berikan rasa tak nyaman hingga ke hati
Aku duduk seolah-olah menunggu mati
Dia ternyata tak kunjung datang meski dinanti
Kedalaman yang tak pernah kurasakan
Menyelam hingga ujung angan-angan
Entah sampai mana ada kenangan
Aku terus rakus nikmati dimakan
Euforia mulai menghilang sejenak
Tak peduli meski aku merasa enak
Aku hanya menatap seorang anak
Menunggunya membaca sebuah almanak
Kantuk mulai datang merayu
Buat diriku terasa mendayu-dayu
Tak lagi kulihat gadis-gadis ayu
Yang ada hanyalah pintu dari kayu
Elegi, cuma itu yang ada dalam pikiranku. Betapa hidup ini tak lebih dari kesedihan-kesedihan yang tak kunjung usai. Yang ada hanyalah sedih, dibalik segala tawa dan senyuman yang semu, semua hanyalah elegi. Begitu paradoks kah hidup ini? Kutemukan makna pada tiap peristiwa, pada tiap persona, namun semua itu tak beri apa-apa selain kesedihan. Melankolis, pribadi yang tak kunjung bahagia namun tersenyum dalam sedihnya. Melodi hidupnya tak lebih dari sekedar nada-nada minor di telinga, apakah itu hidupku?
Takut, rasa mencekam dalam hati kala dia mulai mendekat. Bayangannya membusukkan daging hingga ke atom, menusukkan kengerian tersendiri hingga ke syaraf. Tak terbayang bagiku jika dia menyentuhku, menghisap perlahan jiwa yang terjerumus lembah elegi kehidupan. Akankah aku bahagia? Elegi yang hilang harusnya munculkan euforia, namun aku tak yakin, pasti kah begitu?
Kulihat di ufuk barat, surya menenggelamkan dirinya. Rembulan menggantikan dirinya meski tak seterang dirinya. Diselimuti awan malam, pancarkan cahaya oranye yang lembut mempesona. Dirinya bagaikan seorang ibu. Beliau diliputi kesedihan namun tetap bersinar, berikan keindahan tersendiri bagi pribadi yang melihatnya dalam-dalam. Dalam seketika, aku tak lagi takut. Sinarnya yakinkan aku, kuatkan aku, bahagiakan aku, anaknya.
Jauh, dia takkan mendekat, yang dekat hanyalah elegi. Aku harus bagaimana? Jarakmu begitu jauh. Akal budi tak lagi punya peran, yang ada hanyalah emosi jiwa. Emosi, perasaan, hati, jiwa, apa lah sebutannya untukmu. Aku tak lagi peduli, aku hanya ingin bersamanya. Begitu galau kah diriku?
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.