Tak bermakna... Ya, tak bermakna seperti tulisan ini, timbul dari pikiranku yang entah bermakna atau tidak. Dapatkah nantinya aku merasakan esensi dari semuanya ini? Rasa yang asam manisnya seperti anggur merah yang dulu selalu aku nikmati di malam hari bersamanya.
Hmm... Mungkin sesungguhnya aku hanya merindukan perubahan-perubahan yang dulu selalu terasa dikala aku bersama dia, atau dia, atau dia. Mungkin saat ini rasa sepi sedang hinggap di pikiranku sehingga aku merasa sepi, namun seorang lelaki pernah berkata padaku, "kau merasakan sesuatu yang tercipta dari pikiranmu sendiri" dan aku pun akan kembali merenungkan ucapannya itu. Sungguhlah lelah diriku, setiap hari berpikir, merenung, dan berkontemplasi tentang segala hal. Terkadang aku muak dan menganggap semua itu tak ada maknanya, namun dalam pikiranku seolah-olah ada yang selalu berusaha mencegah usahaku untuk "tak berpikir" itu.
Terlalu lama aku larut dalam asumsi-asumsi, spekulasi-spekulasi, dan argumentasi-argumentasi yang harus selalu aku analisis lagi dan lagi. Ingin sekali rasanya aku mengambil cuti sehari dari berpikir, menghabiskan setiap jamnya bersama dia atau dia atau dia, lalu bercinta hingga lemas tak berdaya lagi. Telah terlalu lama dopamine tak mengalir lagi di dalam otakku, kapan Kau akan memberiku kesempatan untuk berhenti sejenak, Han?
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.