Untuk pertama kalinya, setelah saya mencoba begitu keras untuk merangkul semua, mengorbankan waktu dan tenaga untuk mereka, mereka menikam saya dari belakang. Pada awalnya saya mengira bahwa keterbukaan dapat menjadi medium yang sempurna dalam membangun kedekatan antar anggota kelompok tersebut, ternyata keterbukaan tersebut justru menjadi bumerang yang akhirnya menjatuhkan diri saya sendiri. Begitu bodohnya, saya percaya kepada mereka semua.
Saya kecewa terhadap konspirasi yang mereka buat untuk menjatuhkan saya, saya kecewa terhadap tikaman yang mereka berikan kepada saya, tepat di saat-saat saya telah benar-benar percaya kepada mereka. Saya pun kecewa terhadap diri saya sendiri, begitu lemahnya saya sehingga bisa diperdaya oleh mereka. Kenapa usaha saya dalam menumbuhkan rasa keterbukan diantara masing-masing diri mereka bisa gagal? Padahal niat saya hanyalah ingin membuat kita (saya dan mereka) menjadi sebuah kesatuan yang dekat, utuh, satu.
Saya mengira dengan adanya keterbukaan satu sama lain, saya dan mereka benar-benar bisa bicara apa adanya tentang hal apapun, meskipun hal tersebut mungkin tak mengenakan bagi saya atau pun mereka, sehingga terciptalah tali persaudaraan yang benar-benar erat dan tak kunjung putus oleh gangguan pihak luar.
Namun sungguh, ternyata saya benar-benar keliru terhadap teori saya yang diatas, ternyata konspirasi mereka jauh lebih kuat dan terselubung hingga membuat saya jatuh tanpa bisa bangun kembali meskipun mereka jugalah yang membantu saya untuk bangkit. Saya sudah terlanjur kecewa, kecewa karena konspirasi yang mereka buat, kecewa karena saya sendiri gagal dalam melihat kelemahan teori saya. Sungguh... Saya kecewa.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.