Friday, 14 October 2011

Kotor, Indah, Hina.

Saya sedang browsing di internet centre perpustakaan kampus saya ketika seorang lelaki paruh baya yang sedang browsing di sebelah kanan menegur saya, dia bertanya, "Kok tangannya dikotorin?" awalnya saya hanya tersenyum padanya, tak berkata apa-apa. Saya memandangi tato temporer berupa inisial username Twitter saya dalam gaya tulisan Old English yang saya buat beberapa hari lalu di tangan kanan saya dan mencoba berpikir, "apa yang salah?" ujar saya dalam hati.

Akhirnya sebuah pengembaraan di hutan rimba pikiran pun dimulai...

Mata saya melihat tato temporer tersebut lekat-lekat, mencoba berpikir apa yang kotor dari hal itu. Kulit saya yang memang sudah cenderung gelap terlihat tertutup oleh tinta tato tersebut, ya... tertutup namun tidaklah kotor, setidaknya saya tetap menjaga kulit saya bersih dengan mandi dua kali sehari setiap hari, saya pun tidak menghindari tato tersebut dari usapan sabun saat saya mandi, saya tetap menggosoknya sebagaimana sewajarnya orang yang sedang mandi. Pertanyaan dari lelaki yang tadi browsing di sebelah saya menghantui pikiran saya, apa sih yang kotor?

Tato, selama ini menjadi sebuah hal yang identik dengan keburukan dan negativitas dalam masyarakat Indonesia pada umumnya. Dari dulu sampai sekarang, ketika seseorang terlihat mempunyai tato di bagian tubuhnya, banyak orang yang akan melabelkan cap "bandel" pada orang tersebut, bahkan tanpa mengenal orang tersebut terlebih dahulu. Menurut saya, ini sangatlah buruk dan merusak citra secara pribadi terutama jika orang yang punya tato tersebut sebetulnya tidak "bandel" dan semata-mata hanya ingin mengapresiasi seni saja.

Bagi saya, tato bukanlah sesuatu hal yang kotor, baik yang temporer maupun yang permanen. Bentuk, warna, dan makna yang terkandung di dalamnya menjadi sesuatu hal yang punya nilai estetis. Kenapa indah harus selalu identik dengan bersih? Apakah kotor tak punya hak untuk menjadi indah juga? Bukankah hina jika kita (manusia) saling menghinakan satu sama lain? Bukankah hina jika salah seorang manusia menganggap dirinya lebih suci dan lebih bersih dari yang lainnya hanya karena dia tidak bertato? Pertanyaan-pertanyaan ini terlintas dalam pikiran saya sembari saya pergi meninggalkan internet centre, mungkin saya akan menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu di lain hari.

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.