Kau tawarkan kausmu,
kupakai untuk balut bugilku.
Lelapku di dekapmu,
dingin malam begitu saja berlalu.
Terbentang, kita tatap bersama,
langit subuh Senayan,
tepat dari lantai 17.
Kita lewatkan jam sarapan,
tidak beranjak dari ranjang putih,
dengan selimut tersibak.
Inginku detik berhenti,
namun penerbangan tak mungkin mati.
Hangat air membasuh,
dibantu tangan saling penyayang.
Bibir masih lekat bertautan,
anggur malam tak lekas jadi sisa.
"Ingatkah kau, sayangku?
Kala satu dirimu bersemayam
di dalam ronggaku,
dan kita membiarkan raga menyatu
dalam lelap hingga waktu
tak lagi terekam jejaknya."
Matahari sudah menggantung tinggi, dan penerbangan tak mungkin mati.
Pisah bukan berarti perkara,
karena cinta tak mengenal jarak.
Brisbane sedang menunggumu,
dan Jakarta akan setia menantimu,
untuk kembali.
*diadopsi dari tweet-tweet @CHRSPSRN, subuh di tanggal 21 September 2013. Terinspirasi dari sebuah malam di Hotel Mulia Senayan bersama the Nineteenth, Jakarta.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.