Apa itu
Filsafat? Mungkin jawaban yang paling tepat dari pertanyaan itu takkan pernah
habis untuk dibahas berulang-ulang. Di sini saya akan menggunakan beberapa
definisi dari beberapa tokoh filsuf sebagai dasar definisi saya sendiri.
Definisi-definisi tersebut adalah sebagai berikut [1]
“Filsafat tidak lain
adalah pengetahuan tentang segala hal.” – Plato (427 – 347 SM)
“Filsafat itu
menyelidiki sebab dan asas segala benda.” – Aristoteles (384 – 322 SM)
“Filsafat adalah
pikiran manusia yang radikal, artinya dengan mengesampingkan
pendirian-pendirian dan pendapat-pendapat ‘yang diterima begitu saja’ mencoba
memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain-lain pandangan dan sikap
praktis. Jika filsafat, misalnya, bicara tentang masyarakat, hokum, sosiologi,
kesusilaan, dan sebagainya, di situ pandangan tidak diarahkan kepada
sebab-sebab yang terdekat (secondary cause), melainkan ke ‘mengapa’ yang terakhir (first cause),
sepanjang kemungkinan yang ada pada budi mausia berdasarkan kekuatannya.” –
Prof. Dr. N. Driyakarya S.J. (1913 – 1967)
Kebanyakan dari
kita mengetahui bahwa kata “philosophy” dalam bahasa Inggris berasal dari kata
“philo” yang berarti cinta dan kata “sophia” yang berarti kebijaksanaan dalam
bahasa Yunani, pengertian filsafat ini didapatkan dari segi etimologis.[2]
Bagaimana dari segi terminologi? Meskipun sudah ada banyak filsuf-filsuf dahulu
yang telah memberikan definisi-definisi mengenai apa itu filsafat, saya akan
mencoba meredefinisikan kembali filsafat dalam versi saya.
Filsafat adalah
buah dari usaha-usaha berpikir manusia yang mendalam (radikal), menyeluruh (integral),
tidak begitu saja menerima apa yang ada (kritis),
merupakan hasil cerminan diri (refleksif),
dan berlaku secara luas kepada segala hal (universal)
yang akhirnya akan digunakan dalam menyikapi segala hal yang ada dan terjadi di
dunia ini. Namun filsafat bisa juga diartikan sebagai upaya budi dalam pengungkapan
alasan kebenaran yang hakiki, mencoba menjawab segala pertanyaan-pertanyaan
yang mungkin takkan bisa dijawab oleh umat manusia itu sendiri.
Filsafat dapat
diartikan sebagai objek maupun sebuah kata kerja dan menurut saya, hasil akhir
filsafat akan selalu menyumbangkan pengetahuan-pengetahuan baru bagi peradaban
manusia meskipun (mungkin) hasil akhir tersebut bukan ilmu pengetahuan yang
telah tersistematisasi oleh metode-metode ilmu pengetahuan masa kini.
[1]
Nurani Soyomukti, Pengantar Filsafat Umum: Dari Pendekatan Historis, Pemetaan
Cabang-Cabang Filsafat, Pertarungan Pemikiran, Memahami Filsafat Cinta, hingga
Panduan Berpikir Kritis-Filosofis, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm 99
& 101.
[2]
Prof. Dr. Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani edisi revisi, (Jogjakarta:
Kanisius, 1999), hlm 17.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.