“Jauh perjalanan mencari intan pujaan.Dimana puan mengapa pergi tanpa pamitan.Lembah kuturuni bukit nan tinggi kudaki.Tak kunjung jumpa mengapa hilang tak tentu rimba.Laut hempaskan kupadanya, bintang tunjukkan arah.Oh angin, bisikkanlah malam ini.Hati cemas bimbang, harapan timbul tenggelam.Permata hati mungkinkah kelak berjumpa lagi”
Sore – Pergi Tanpa Pesan
Lagu itu menjadi alunan yang tepat bagiku untuk menyelami rasa gundah terdalam ataupun hanya menjadi latar suara ketika aku memandang kemisteriusan sang bulan. Dibalik bebunyian contra bass-nya, tersimpan dendang tak berbataskan. Dibalik suara yang keluar dari akordion, tersimpan damai tak terbantahkan. Dibalik suara alto saxophone-nya, tersimpan sensasi erotis tak tertahankan. Semua itu menyatu dalam lagu ini yang dinyanyikan oleh Sore, menjadi simbol tersendiri bagi kegalauan yang terkadang merayapi sumsum tulangku.
Aku terduduk lemas di atas kloset, memandangi asap rokok yang membumbung tinggi di atas kepalaku, asapnya tipis… mengambang damai tak tentu arah. Kegelapan menyelimuti tubuh bugilku, cahaya hanya datang dari layar telepon genggam yang aku taruh di atas rak kamar mandi, memberikan pendar cahaya temaram yang misterius di sekelilingku. Ketika aku menghisap rokok dalam-dalam, aku menutup mataku perlahan… Menyambut kesunyian yang sedari tadi datang setelah semua penghuni rumahku terlelap.
Dan kulihat dia disana, tersenyum penuh kasih kepadaku. Wajahnya berseri-seri meskipun ada sedikit keriput kecil menghiasi. Kumis dan jenggot lebat menutupi rahangnya yang kuat, memberikan kesan lembut pada matanya yang berbinar. Rambutnya yang biasanya terlihat kusut, kali ini tersisir rapi, semakin menonjolkan ketampanannya yang tersembunyi dari khayalak umum.
Bayangan lelaki itu terasa begitu nyata, sangat jelas, namun langsung sirna begitu saja kala aku membuka mata. “Oh sayang, kemana kau telah pergi? Kini hanya bayangmu saja yang muncul di hadapanku. Dua bulan sudah aku menunggumu untuk kembali dan Tuhan masih belum juga mengizinkan kita untuk kembali berjumpa” kalimat-kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku, memecah kesunyian malam yang – tadinya – sempurna.
Aku menutup mataku kembali – mencoba kembali menghadirkan bayangan lelaki itu – dan gagal, hanyalah gambaran-gambaran hitam putih masa lalu lelaki itu denganku yang muncul sekelebat, memoriku terpancing, akhirnya gambar-gambar hitam putih itu menjadi berwarna dan bergerak…
Seperti baru saja menggunakan mesin waktu, aku kembali ke masa itu. Sebuah masa ketika dia mencium bibirku untuk pertama kalinya lalu tersenyum padaku di pagi hari itu. Sambil menikmati ingatan itu, aku tersenyum… lalu diriku menjadi tenang setenang permukaan air di danau.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.