Dan disini lah aku berada, duduk dan menangis seorang diri.
Menatapi sebuah lirik lagu ketika ku mendengar lagu sendu.
Dan elegi itu datang menyapa dalam waktu singkat tak terduga.
Tak tertahankan, diriku menangis.
Mata yang keras menutupi kesedihan mendalam yang kronis.
Tiba-tiba luluh, melembut, melunak, dan merasakan miris.
Rasa tegas merunduk pada ketulusan hati dan jiwa.
Menjelma dalam air mata yang menetes tak terhingga.
Dan jika saja kubisa menggapaimu, meraih dirimu jauh disana.
Menatapi sebuah lirik lagu ketika ku mendengar lagu sendu.
Dan elegi itu datang menyapa dalam waktu singkat tak terduga.
Tak tertahankan, diriku menangis.
Mata yang keras menutupi kesedihan mendalam yang kronis.
Tiba-tiba luluh, melembut, melunak, dan merasakan miris.
Rasa tegas merunduk pada ketulusan hati dan jiwa.
Menjelma dalam air mata yang menetes tak terhingga.
Dan jika saja kubisa menggapaimu, meraih dirimu jauh disana.
Kan kupegang erat tanganmu dan memelukmu.
Mendengar detak jantungmu yang berdebar merdu.
Merasakan hangatnya cinta yang tak pernah kurasakan lagi.
Ku tahu, kontak fisik hanyalah bualan belaka dan menjemukan.
Tapi ku tak paham, tak mengerti, mengapa diriku inginkan itu.
Kurasakan ironi yang terjadi dalam diriku, tapi rasanya tak berguna.
Kau kan bisa menggantikan mereka, harapku ragu.
Kata-kata itu selalu menggema dalam ruang hatiku yang hampa.
Mendengar detak jantungmu yang berdebar merdu.
Merasakan hangatnya cinta yang tak pernah kurasakan lagi.
Ku tahu, kontak fisik hanyalah bualan belaka dan menjemukan.
Tapi ku tak paham, tak mengerti, mengapa diriku inginkan itu.
Kurasakan ironi yang terjadi dalam diriku, tapi rasanya tak berguna.
Kau kan bisa menggantikan mereka, harapku ragu.
Kata-kata itu selalu menggema dalam ruang hatiku yang hampa.
Tak bertuan, tak dimiliki, tak memiliki, dan tak kunjung henti sendirian.
Ku yakin akan cinta dan kasih sayang yang kau beri.
Dengan setiap pengorbanan yang kau lakukan untukku.
Namun ku ragu pada diriku sendiri, kemampuanku untuk mencintai.
Karena rasa ini telah mati, untuk kesekian kalinya.
Dan aku tak ingin terlena harapan palsu, meski ku yakin kau takkan begitu.
Ku hanya tak bisa membiarkan hati ini terbuai, karena aku tak pantas.
Untuk rasakan perhatian, yang kau anggap biasa saja.
Ku yakin akan cinta dan kasih sayang yang kau beri.
Dengan setiap pengorbanan yang kau lakukan untukku.
Namun ku ragu pada diriku sendiri, kemampuanku untuk mencintai.
Karena rasa ini telah mati, untuk kesekian kalinya.
Dan aku tak ingin terlena harapan palsu, meski ku yakin kau takkan begitu.
Ku hanya tak bisa membiarkan hati ini terbuai, karena aku tak pantas.
Untuk rasakan perhatian, yang kau anggap biasa saja.
Ku ambil keputusan berat ini dengan beban di jiwa.
Dan berharap kau kan baik-baik saja, tanpaku, tanpa segala kisah hidupku.
Ku kan menyesali ini seumur hidupku, tapi ku tak punya pilihan lain.
Kisah kita berakhir saat ini, jam ini, menit ini, detik ini.
Dan tak sedikit pun aku merasa senang.
Aku menyesal, merana, menderita, dan menyedihkan tanpa dirimu.
Tapi apa lah dayaku, waktu temukan kita dalam ruang yang salah.
Ku tak akan berhenti menangis.
Dan berharap kau kan baik-baik saja, tanpaku, tanpa segala kisah hidupku.
Ku kan menyesali ini seumur hidupku, tapi ku tak punya pilihan lain.
Kisah kita berakhir saat ini, jam ini, menit ini, detik ini.
Dan tak sedikit pun aku merasa senang.
Aku menyesal, merana, menderita, dan menyedihkan tanpa dirimu.
Tapi apa lah dayaku, waktu temukan kita dalam ruang yang salah.
Ku tak akan berhenti menangis.
Menyesali setiap kata yang ku ucapkan tadi.
Berharap kita kan bertemu lagi, suatu saat, di waktu yang tepat.
Untuk saling menyayangi, mencintai, memadu kasih bersama.
Memetik buah cinta yang kita tanam dan kita jaga bersama.
Bersamamu, kuingin jalani sisa hidupku
Hingga kematian menjemput nyawaku, memisahkan ragaku.
Menenggelamkanku dalam gelapnya akhir masa.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.