Monday, 30 July 2012

Kicauan Seorang Kesayangan

Post ini berisikan sejumlah tweet yang secara tanpa izin aku ambil dari akun seorang perempuan yang aku sayangi. Ya, ini tentangku, meski hanya sekedar kicauan..

*****

Aku tak kuasa, air ini mengalir deras.... Untukmu, kawan. Aku ingin bercengkrama di sampingmu, memelukmu hingga matahari tak muncul lagi.

Tawamu iringi candaan kita. Bicaramu lembut dan bijak seperti seorang kakak. Kita melakukan hal-hal gila bersama, aku rindu semua.

Senja berlalu kau tak peduli, tetap bercengkrama dan berbicara seputar ranjang. Kita, gila bersama. Kita, tertawa membelah malam.

Kau menampung segala keluh kesahku, senang dan tawaku, membagi rata agar sepadan denganmu, kawan. Entah di mana lagi makhluk sepertimu.

Kau dan pikiranmu, masa depanmu. Hei! Kau punya masa depan, kawan! Tidakkah kau ingat? Janganlah pergi terlalu cepat.

Gayamu, caramu... Asap rokok yang berbaur dengan canda dan resah kita. Kau dan aku banyak kesamaan, kau membimbingku ke dalam kebenaran.

Aku tau kau berbeda, bukankah setiap orang berbeda? Kau, manusia dengan perbedaan menonjol yang hebat! Aku bangga bersamamu, kawan.

Rembulan itu menertawakan kita yang menari di atas wajah-wajah tampan pria pujaan. Tidakkah kau ingat?

Perempuan hebat yang ada di hidupku, dengan isi otak yang tak dapat kutebak, dengan segala kejutan kebahagiaan, aku senang bersamamu, kawan.

Kita bersama mencari kebenaran dan pembenaran, catatan kecil pada akhir halaman bukumu, tidakkah kau ingat? Kau hebat, kawan.

Kau, melawan perasaan, melawan kenyataan, membuat perubahan untuk kesenangan.

Ya, kita manusia butuh bahagia, seperti saat aku bersamamu, bahagia.

Kau melangkah menjauh, aku meredup kawan... Aku menunggumu kembali, ke alam ini, ke tempat kita. Jangan pergi...

Kita, bertukar pandang. Kau dan aku melayangkan pertanyaan. Kita berargumentasi, kita mencari benar, kita sama.

Kemarilah, kusediakan kesukaanmu. Mie rebus rasa kari dengan telur yang lebur dalam kuah, juga rokok untuk setelah makan.

*****

Dia memang seorang kawan setia. Sungguh bukan maksudku ingin buat dia menangis, namun apa lah dayaku. Aku sakit, dan aku tak mampu mengatakan apa pun kepadanya kecuali sebuah ucapan perpisahan. Dia seorang perempuan, yang mengasihi tanpa pamrih, yang menolong tanpa segan. Sabarlah kawan, sedikit lagi, segera.. Aku akan kembali, dan akan kita nikmati mie rebus rasa kari dengan telur dan beberapa batang rokok itu, bersama lagi.

Aku dan Dia (4 Juli 2012)

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.