Wednesday, 21 December 2011

The Umpteenth

"Selama ini aku salah mengartikan maksud di balik hatimu.
Selama ini aku anggap engkau benar-benar cinta kepadaku..."
Naif - Buta Hati
Kenapa saya memberi judul post ini dengan 'the umpteenth' - atau yang dalam bahasa Indonesia berarti 'kesekian'? Bagi saya, sudah cukup rasanya segala pengalaman liar nafsu birahi yang terjadi dalam hidup saya. Inilah titik nadir dalam hidup saya. Karenanya, saya memanggil seseorang yang akan saya ceritakan dengan panggilan 'kesekian'.

Dia adalah seorang teman, seorang kakak sekaligus adik bagi saya. Akhir-akhir ini, hari-hari saya di kampus selalu diwarnai oleh sikap jenakanya yang selalu membuat saya terpingkal tiap kali dia melontarkan lelucon. Pada awal kami pertama kali kenal, saya sama sekali tak punya niat bahkan perasaan apa pun kepadanya, saya berpikir, "ah palingan dia sama saja..." dan saya pun tak terlalu memikirkan kehadirannya. Dia mencoba untuk membuka topik mengenai filsafat - yang tidak lain merupakan studi yang sedang saya ambil saat ini - saya terpancing...

Saya ceritakan apa yang saya tahu, dia memperhatikan wajah saya begitu lekat dan penuh perhatian, saya pun akhirnya mulai tertarik untuk mendekatkan diri padanya. Tiap kali kami bertemu di kampus, dia selalu berhasil membunuh kejenuhan saya ketika menunggu bel masuk kelas maupun setelah pulang kuliah - ketika saya enggan pulang ke rumah karena satu dan lain hal.

Berminggu-minggu kami selalu bertegur sapa, berminggu-minggu kami mulai saling mengenal kehidupan satu sama lain, saya mulai masuk ke dalam lingkaran pertemanannya, kami bahkan saling menceritakan rahasia masing-masing. Akhirnya saya selalu mencari dirinya kala kelas telah selesai untuk bermain kartu dan bersenda gurau bersama dia dan teman-temannya. Karena kedekatan kami, saya sempat memikirkan bahwa mungkin saja kami bisa masuk fase "friends with benefit", namun sepertinya dia terlalu naif untuk bisa masuk fase tersebut, saya pun tak tega untuk memaksanya, he's too funny and lovable to be seduced hahaha

Semakin lama kami mengenal satu sama lain, semakin terbuka kami kepada satu sama lain, semakin nyaman saya bersamanya. Dia selalu melindungi saya dari teman-teman lelaki saya yang terkadang suka berbuat iseng, mengingatkan saya kalau saya bersikap egois. He's one of the best friends I've ever had, dan saya harus akui, I adore him more than anyone. Sebetulnya tak lama sebelum saya menulis post ini, kami dan teman-temannya sempat menghabiskan waktu bersama hingga larut malam, pada saat itu saya lupa kalau saya tidak mungkin bisa pulang karena rumah yang pasti sudah dikunci, tak disangka-sangka senior saya mengunjungi tempat yang sama dan saya mencoba bertanya apakah saya bisa menginap semalam di kosannya, kenyataanya tidak bisa. Lalu saya mendengar bahwa sang 'kesekian' beserta yang lain akan menginap di rumah salah satu teman, saya bertanya apakah saya bisa menginap, dan ternyata bisa sehingga kami merencanakan untuk menginap di rumah teman sang 'kesekian'

Saat sampai di rumah teman sang 'kesekian', kami berbincang kembali, begitu lama dan terasa akrab - sesuatu hal yang sangat jarang saya dapatkan dari seorang teman lelaki - hingga saya berpikir bahwa dia adalah orang yang 'tepat', dia lah orang yang selama ini saya cari, dia lah lelaki yang bisa membimbing saya menuju kebenaran dan kebaikan tanpa harus melalui jalan berbatu dahulu. Untuk 'kesekian' kalinya, saya jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta kembali, dia bahkan berhasil membuat saya luluh tanpa harus menyentuh saya, tanpa harus memberikan rayuan-rayuan palsu - meskipun terkadang rayuannya memang gombal, tapi tidak palsu. Saya memutuskan untuk mempertimbangkannya sebagai lelaki yang akan saya ajak berkomitmen untuk jangka panjang, saya bisa dibuatnya pasrah dan merelakan  segala hubungan-hubungan saya dengan partner-partner saya sebelumnya. Saya menyatakan dalam hati bahwa saya siap untuk membina hubungan yang melibatkan komitmen, lepas dari nafsu, lepas dari birahi.

Tetapi hari ini, hal yang tidak terduga terjadi...

Saya dan dia duduk di bangku taman dekat kantin, bicara lekat satu sama lain. Saya tahu bahwa dia pasti sadar kalau saya menyukainya - setelah semua hal yang terjadi di antara kami - namun ternyata dia sepertinya memang memilih untuk tidak mengindahkan perasaan saya, dia bercerita kepada saya kalau dia menyukai perempuan lain, otak saya tiba-tiba saja menjadi kacau, seolah-olah ada korslet yang terjadi diantara tumpukan syaraf dan membuat saya jadi terdiam - speechless harus bilang apa kepadanya - namun sebagai 'teman' yang baik akhirnya saya menyarankan dirinya untuk maju demi sang perempuan lain tersebut, it was a hopeless and dead end. Saya, untuk pertama kalinya dikecewakan oleh nasib, huft... Setelah semua keputusan yang saya buat, setelah semua pengorbanan yang siap saya lakukan, saya dikecewakan. Sayabukannya kecewa karena sang 'kesekian' ternyata menyukai perempuan lain, tapi saya kecewa kepada nasib yang tidak berpihak kepada saya untuk merubah diri dan pola hidup.

Seorang teman - yang tidak lain adalah senior saya sendiri yang saya temui malam sebelumnya - mencoba membangkitkan semangat saya kembali, membuat saya berpikir ulang mengenai apa yang telah saya putuskan. Dan saya memutuskan...

Saya memutuskan untuk merelakan lelaki tersebut, meski rasanya sakit, tapi biarlah... Ini bukan salahnya, saya akan mencoba untuk move on dan berpegang teguh kepada keputusan yang telah saya ambil serta menganggap peristiwa ini sebagai salah satu spektrum warna dalam kehidupan saya.


"Naif - Buta Hati"

No comments:

Post a Comment

I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.