"Sex is as important as eating or drinking and we ought to allow the one appetite to be satisfied with as little restraint or false modesty as the other" - Marquis de Sade
Seks – sebagaimana makan dan minum – merupakan sebuah kebutuhan yang mendasar bagi manusia, namun bagi saya adalah suatu hal yang mengherankan saat kebutuhan seks tidak bisa dipenuhi secara bebas layaknya makan dan minum bahkan harus ditahan atau dilakukan dengan kesopanan palsu seperti yang Marquis de Sade katakan, padahal tiga kebutuhan tersebut berada di tingkat prioritas yang sama. Kenapa kita harus menahan diri atau melakukan kesopanan palsu ketika ingin melakukannya? Jawabannya adalah pernikahan.
Saat ini, pandangan mengenai pemahaman yang paling penting dan evaluasi terhadap seks adalah bahwa seks memungkinan prokreasi untuk terjadi dan satu-satunya tempat yang sesuai untuk melakukan hal itu adalah pernikahan. Pandangan yang dibangun melalui sejarah yang panjang – sekitar dua milenium – ini awalnya berasal dari pandangan Kristen tentang alam dan seksualitas manusia pada khususnya, diadopsi dari ide Perjanjian Lama tentang pernikahan sebagai institusi yang sesuai untuk menjalankan perintah Tuhan yaitu “berbuah dan berlipat gandalah!”. Di sisi lain, penguatan terhadap pandangan tersebut didapat dari tradisi Pythagoras dan Platonis tentang sikap negatif terhadap tubuh dan pemahaman seksualitas Stoik sebagai salah satu keinginan yang secara konstan bertentangan dengan tuntutan akal. Pandangan yang benar-benar negatif atas seksualitas terjadi pada masa Kristen Awal yang secara tegas dinyatakan dan dibatasi implikasi praktisnya dalam bagian Surat Pertama Paulus kepada Korintus.[1] Kemunculan Yesus setelah turunnya perintah Tuhan membuat tujuan untuk bereproduksi dan berlipat ganda tidak lagi menjadi tujuan utama manusia. Beberapa abad kemudian, St. Agustinus melihat hal ini dengan cara yang berbeda; dalam laporannya tentang seksualitas manusia, kebutuhan prokreasi menerima peran utama. Pandangan negatif sebelumnya terhadap seksualitas manusia dijabarkan dan dihubungkan dengan dogma tentang Dosa Asal[2] oleh doktrin yang menyatakan bahwa seksualitas mengungkapkan karakter dasar dari sifat berdosa manusia yang telah jatuh dari surga. Dosa Asal merupakan perlawanan terhadap budi Tuhan; dan sebagai bagian hukuman dari perlawanan itu, diibaratkan seksualitas kita juga memberontak terhadap budi kita sendiri, bahkan tidak bisa diatur dengan cara, misalnya, mengatur pergerakan tangan dan kaki.
Irrasionalitas dasar dari seksualitas manusia ini, punya kekebalan terhadap kontrol oleh budi maupun keinginan, dikarenakan rasa malu dan kebutuhan privasi yang tunduk padanya. Bahkan organ kelamin biasa disebut sebagai organ ‘kemaluan’ dan hubungan intim antara suami-istri dilakukan dalam privasi karena takut menjadi hal yang memalukan jika dilakukan tanpa privasi, kenapa seks yang tujuannya merupakan prokreasi – sesuatu yang alamiah dan wajar – diidentikkan dengan sesuatu hal yang memalukan seperti hukuman? Anggapan ini lah yang ingin saya kritisi melalui sudut pandang etika dan cinta, dan menurut saya, akan lebih baik jika kita mencoba menelaah seks secara lebih dalam terlebih dahulu sebelum membahas etikanya.
Seks, selain menjadi sarana prokreasi bagi manusia, dapat diartikan juga sebagai bahasa. Jean-Paul Sartre mengatakan dalam “Beings and Nothingness” bahwa tubuh menjadi manifestasi dari pencarian terhadap kebebasan, pengakuan, dan kekuasaan. Salah satu biasanya mencoba untuk mendapat pengakuan dari kebebasan orang tersebut dengan cara menaklukkan yang lain. Hubungan seksual dengan demikian diartikan sebagai komunikasi interpersonal dengan tubuh sebgai media penaklukkan dan pendegradasian sebagai pesan.[3] Sementara Thomas Nagel dalam “Sexual Perversion” mengatakan bahwa perasaan terangsang dalam seks tidak lebih dari sekedar efek bola ping-pong, perasaan terangsang seseorang tidak lain merupakan cerminan dari perasaan terangsang pasangannya sendiri, dan tubuh sebagai alat dari bahasa, memberikan sinyal-sinyal yang saling timbal balik dalam proses rangsang-merangsang tersebut.[4] Tetapi bahasa yang saya maksud adalah bahasa tubuh yang jadi sarana komunikasi dalam menyampaikan informasi-informasi non-verbal seperti perasaan dan sikap terhadap pasangan seks kita maupun kepada kita sendiri, argumen ini dikritik oleh Robert Solomon yang mengatakan bahwa pendapat Nagel terlalu menekankan perasaan terangsang (arousal) dan tidak menyebut apa pun mengenai seks sebagai bahasa, begitu pula dengan pernyataan Sartre, dia menggunakan kata ‘manifestasi’ namun tidak mengatakan apa pun mengenai komunikasi non-verbal yang terjadi dalam manifestasi tersebut. Solomon juga menolak klaim yang mengatakan bahwa seks hanyalah sekedar prokreasi belaka karena hal tersebut tidak dapat memberikan alasan yang masuk akal pada perilaku seksual yang independen – yang tidak bertujuan untuk prokreasi – bahkan perilaku seksual yang mencegah prokreasi. Dia juga mengatakan bahwa seks bukanlah usaha gratifikasi badan, karena kalau pun klaim yang menyatakan bahwa seks adalah usaha gratifikasi badan maka sebetulnya fokus pada kenikmatan tersebut tidaklah harus dicapai dengan melakukan seks bersama pasangan, bahkan dengan masturbasi saja pun sudah cukup.[5]
Bantahan terhadap klaim yang menyatakan “seks tidak punya hubungan apa pun dengan gratifikasi” datang dari kaum hedonis yang mengatakan jika seks adalah memang suatu jenis bahasa maka gerakan yang membentuk kosa kata hanya akan menjadi penting secara instrumental, sebagai sebuah alat komunikasi yang efisien, dan bisa jadi tidak memiliki makna di dalam diri kata-kata tersebut. Menurut paper Alan Goodman yang berjudul “Plain Sex”, meskipun seks dapat mengkomunikasikan banyak hal, seks bisa juga tidak mengkomunikasikan apa pun secara khusus dan tetap bisa disebut sebagai “seks yang memuaskan.”[6] Dalam hal ini, saya berpihak kepada kaum hedonis, karena ketika kehidupan berangkat dari kenikmatan atau kepuasan – terutama seks – maka kebahagiaan dalam hidup akan lebih mudah muncul dan jika dilakukan dengan batasan diri yang tepat, implikasi langsung dalam kehidupan – terutama dalam aspek kesehatan tubuh dan mental – akan selalu bersifat positif, penelitian langsung yang dilakukan para seksolog dan psikolog telah banyak memberikan fakta bahwa seks pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Saya tidak memungkiri bahwa seks bisa menjadi sesuatu yang buruk, namun probabilitas bagi tendensi ini untuk terjadi bisa ditekan melalui pendidikan seks yang tepat sasaran umur, transparan, dan komprehensif. Pendidikan seks yang tepat sasaran umur maksudnya adalah pendidikan seks yang diberikan secara bertahap dan sesuai dengan umurnya, sehingga tidak akan ada anak di bawah umur yang benar-benar buta mengenai seks namun juga tidak terlalu banyak tahu agar tidak menyebabkan degradasi moral di masa depannya. Transparan dalam pendidikan seks sangat diperlukan agar fakta tentang baik dan buruknya tidak berat sebelah, sehingga individu yang diberi pendidikan seks yang transparan dapat melihat seks dengan lebih jernih sehingga tidak menimbulkan mitos-mitos yang tidak berdasar. Pendidikan seks haruslah komprehensif terutama jika tahap masa remaja mulai berakhir, hal ini bertujuan agar orang-orang dewasa yang beranjak dari remaja yang melek seks akan lebih paham tentang seks, orang yang paham mengenai seks pasti peduli terhadap segala bentuk seksualitas menyimpang yang ada di sekitarnya, dengan adanya kepedulian maka akan memunculkan kesadaran tentang buruknya pelecehan seksual, pemerkosaan, pelacuran, dan perselingkuhan. Dengan begitu etika seks dapat disetarakan dengan agama menjadi sistem etika yang punya nilai moral yang sama tinggi.
Ada satu hal lagi yang ingin saya telaah, apakah seks = cinta? Apakah seks dan cinta punya kedudukan yang sama? Mengapa orang yang melakukan hubungan seks disebut bercinta? Kali ini saya akan membahas hubungan antara seks dan cinta.
Cinta memang bukanlah suatu hal yang mudah untuk didefinisikan, bahkan dari sekian filsuf-filsuf yang ada, saya tidak menemukan satu pun definisi yang final, karena seperti yang dikatakan James Farlow Mendrofa dalam seminar Cinta dan Seksualitas (FIB UI, 19 Desember 2011) bahwa cinta bukanlah sesuatu hal yang bisa kita objektifitaskan, sehingga cinta tidak akan pernah bisa didefinisikan ke dalam rumusan tertentu seperti rumus volume kubus dalam matematika. Tetapi lewat pendekatan etimologis, saya akan mencoba untuk menentukan apa definisi cinta dan hubungannya dengan seks.
Secara etimologi, kata love dalam kamus Oxford Dictionary of Philosophy (Simon Blackburn, 1996, hlm. 223) dijelaskan dalam tiga kata dari bahasa Yunani, yaitu eros, philia, dan agape. Eros merupakan definisi cinta yang selalu berhubungan dengan relasi dan kertarikan secara seksual, philia merupakan definisi cinta yang melibatkan rasa persahabatan, sedangkan agape memberi kita definisi cinta altruism[7]. Sesuai dengan pandangan saya sebelumnya mengenai seks, maka dalam pendekatan etimologis ini, saya memilih eros sebagai definisi utama tentang cinta, seks menjadi salah satu medium dalam mengekspresikan cinta antara seseorang dengan pasangannya. Eratnya hubungan kata eros dengan pemenuhan kebutuhan seks, memunculkan implikasi yang berujung pada indahnya suatu hubungan antara satu orang dengan orang yang lain, itu sebabnya hubungan seks pada manusia tidak dibahasakan sebagai ‘berkelamin’ melainkan ‘bercinta’. Karena hubungan seks tersebut merupakan bagian dari kegiatan bercinta itu sendiri yang tidak lain merupakan kondisi timbal balik (mencintai-dicintai), sehingga kegiatan bercinta bisa mencakup seluruh kehidupan manusia. Dari argumen sebelumnya, saya menyatakan bahwa seks ≠ cinta, cinta mempunyai tingkat yang lebih tinggi daripada seks karena kegiatan berhubungan seks masuk ke dalam kegiatan ‘bercinta’, seks hanya merupakan salah satu ekspresi cinta.
Daftar Pustaka
PRIMORATZ, I., Ethics and Sex, New York: Routledge, 2005; Human Sexuality, Aldershot: The International Research Library of Philosophy, 1997.
SOBLE, A., The Philosophy of Sex: Contemporary Readings, Lanham: Rowman & Littlefield, 1997, ed. ke-3.
SOLOMON, R., Sexual Perversion, Cambridge: Cambridge University Press, 1969.
BUNNIN, N., dan YU, J., The Blackwell Dictionary of Western Philosophy, Oxford: Blackwell Publishing, 2004.
BLACKBURN, S., Oxford Dictionary of Philosophy, Oxford: Oxford University Press, 1996.
PROUDFOOT, M., LACEY, A., R., Routledge Dictionary of Philosophy, New York: Routledge, 2009.
[1] Igor Primoratz, Ethics and Sex (New York: Routledge, 2005) hlm 8-9: “Adalah baik bagi seorang pria untuk tidak menyentuh seorang wanita. Tetapi karena godaan untuk menjadi immoral, setiap pria harus memiliki istrinya sendiri dan setiap wanita harus memiliki suaminya sendiri. Suami harus memberikan istrinya hak suami-istri, begitu juga dengan istri kepada suaminya. Jangan menolak satu sama lain, kecuali mungkin ada kesepakatan dalam suatu waktu, kalau kamu pergi untuk berdoa; Tapi kemudia datanglah bersama-sama lagi, supaya Iblis tidak menggoda kamu melalui kurangnya kontrol diri. Saya mengatakan ini dengan cara konsesi, bukan perintah. Saya berharap bahwa semuanya seperti saya. Tapi setiap orang punya karunia Tuhannya masing-masing, salah satu dari satu jenis dan salah satu dari jenis lainnya. Untuk yang belum menikah dan para janda, saya katakan bahwa baik bagi mereka untuk tetap menjadi lajang seperti yang saya lakukan. Tetapi jika mereka tidak dapat mengendalikan diri, mereka harus menikah. Sebab kawin adalah lebih baik daripada terbakar gairah sendiri.”
[2] Merujuk pada The Blackwell Dictionary of Western Philosophy (Oxford: Blackwell Publishing, 2004) halaman 502. Dosa Asal adalah dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa ketika mereka tidak bisa menolak godaan Iblis untuk memakan buah pengetahuan sehingga mereka dibuang dari surga oleh Tuhan.
[3] Lihat pendapat Igor Primoratz dalam Ethics and Sex (New York: Routledge, 2005) halaman 33 terhadap tulisan Beings and Nothingness karya Jean-Paul Sartre.
[4] Lihat Alan Soble, The Philosophy of Sex: Contemporary Readings edisi ketiga (Lanham: Rowman & Littlefield, 1997) halaman 15.
[5] Lihat Robert Solomon, Sexual Perversion (Cambridge: Cambridge University Press, 1969) halaman 276.
[6] Lihat Igor Primoratz, Human Sexuality (Aldershot: The International Research Library of Philosophy, 1997) halaman 109.
[7] Merujuk pada Routledge Dictionary of Philosophy (New York: Routledge, 2009) halaman 11, altruism adalah keutamaan pada seseorang untuk mempertimbangkan kepentingan orang lain terlebih dahulu melebihi kepentingannya dan demi kepentingannya.
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.