“Terasa berdebar hatiku setiap melihatmu tersenyum padaku. Tak kuasa menahan rindu tuk selalu bertemu, bercinta denganmu. Adakah kau merasakan juga? Cinta yang selalu hidup di jiwaku. Ku tak tahu, mengapa dirimu begitu indah, membuatku selalu ingin di dekatmu. Bawalah diriku di setiap mimpi-mimpimu, akan selalu ada untukmu.Biarlah cerita cinta kita terjalin abadi, aku kau selamanya. Ku ingin hidupku untukmu, hidupmu bagiku, berjalan bersama. Adakah kau merasakan juga? Cinta yang selalu hidup di jiwaku. Ku tak tahu, mengapa dirimu begitu indah, membuatku selalu ingin di dekatmu. Bawalah diriku di setiap mimpi-mimpimu, akan selalu ada untukmu.Bawalah diriku, aku kan selalu ada untukmu…” Tompi - Tentang Kamu
Lirik cinta yang begitu mendalam yang selalu terdengar tiap kali aku jatuh cinta pada seorang lelaki, mungkin sebetulnya itu bukan jatuh cinta, lebih tepat jika disebut sebagai ‘jatuh nafsu’ pada seorang lelaki. Setiap nada yang terucap membuatku kasmaran, tak sabar ingin menghabiskan waktu dengan lelaki itu. Mencium dan memeluknya seakan-akan dia hanyalah milikku satu meskipun aku tahu bahwa hubungan kita tak lebih dari sekedar nafsu birahi belaka.
Mengapa ini terjadi padaku? Mengapa aku sulit untuk merasakan cinta yang sesungguhnya? Mengapa aku selalu terjebak dalam lubang nafsu yang tak pernah terpuaskan? Aku ingin bebas dari perangkap itu, menjadi wanita yang sungguh-sungguh mendedikasikan hidupnya untuk seorang lelaki. Mengapa semua itu sangat sulit bagiku untuk dijalankan?
Aku trauma, atau mungkin tidak. Terakhir kali aku menjalani sebuah hubungan percintaan yang resmi dengan seorang lelaki, aku tersakiti, atau mungkin tidak. Ada rasa sayang disana, namun tak ada kontak fisik yang benar-benar menunjang hubungan tersebut. Apalah cinta tanpa kasih sayang emosi dan fisik? Terlebih lagi lelaki itu ternyata mencampakan diriku karena tergoda pesona wanita lain.
Mungkin bukan aku yang salah, mungkin bukan dia juga yang salah. Berakhirnya hubungan asmara terakhir itu tak lebih karena hilangnya kontak fisik dan munculnya rasa ketidakcocokan satu sama lain. Entahlah…
Dan kini aku telah menjalani hubungan nafsu birahi dengan beberapa lelaki, tanpa ada visi untuk merasakan kembali cinta yang sesungguhnya. Kami saling menyakiti satu sama lain, tak memikirkan dampak emosional yang akan datang menghampiri. Mereka menjalani hubungan dengan wanita lain, begitu pula denganku. Tak ada rasa memiliki disana, tak ada rasa afeksi disana, semua tak lebih dari sekedar memuaskan kebutuhan biologis masing-masing yang kadang datang dan terasa tak tertahankan.
Terkadang aku menyesal, kenapa aku rela membiarkan mereka menyakitiku seperti itu. Istilah ‘Habis manis sepah dibuang’ tak asing bagiku, memang itulah yang sehari-harinya terjadi dalam hubunganku dengan para lelaki itu. Sekarang mereka entah kemana, pergi meninggalkan diriku sendiri (meskipun sesungguhnya aku masih punya beberapa hubungan fisik dengan beberapa lelaki lainnya).
Sebetulnya ada satu lelaki yang menyangkut dalam hati dan pikiranku. Dia terus-menerus muncul, membuatku khawatir kala dia jatuh sakit, membuatku ingin mencurahkan perhatian lebih kepadanya daripada ke lelaki-lelaki lainnya. Dialah The Fifth, seorang lelaki Padang yang telah memiliki kekasih. Mari kita sebut kekasihnya dengan "N", dia seorang mahasiswi desain di sebuah universitas di Jogjakarta. Terkadang aku merasa bersalah karena telah menggoda The Fifth untuk bercinta denganku. Tapi semua orang butuh pemuasan, bukan?
Aku masih ingat ciuman pertamaku dengan The Fifth seolah itu baru terjadi kemarin pagi. Kejadian itu terjadi pada tanggal 1 Januari 2011, ya, tepat di pagi hari. Aku mengadakan sebuah pesta kecil di rumahku, mengundang beberapa teman (termasuk dirinya) untuk meramaikan suasana. Kami telah merasakan sebuah getaran jauh sebelum hari pergantian tahun, seolah-olah ada magnet yang menarik kami berdua untuk bersama.
Di pesta itu kami tertawa, tersenyum, bergembira bersama kawan-kawan lainnya. Beberapa teman memutuskan untuk menginap hingga esok hari, begitu juga The Fifth. Dikala mereka semua lelap tertidur, tinggal aku dan The Fifth yang masih terjaga menonton TV hingga subuh hari. Entah kenapa meskipun mataku terasa berat akibat kantuk, tapi aku memilih untuk terus terjaga menemani The Fifth yang sama sekali belum merasakan kantuk. Kami saling melontarkan lelucon satu sama lain, tersenyum, terkadang saling menatap mata masing-masing untuk sesaat.
Dan akhirnya ketika ayam berkokok, menandakan bahwa matahari sedang terbit dan pagi menjelang, dia mencium bibirku. Bisa kurasakan rasa ragu yang sesaat ketika bibirnya benar-benar menyentuh bibirku untuk pertama kalinya, mungkin dia sendiri merasakan ada rasa penyesalan yang muncul karena telah mengkhianati kekasihnya yang sedang berada di Jogja.
Aku yang telah buta oleh nafsu, menyambut ciuman itu dengan suka cita, mendekatkan tubuhku kepadanya, membiarkan dia memeluk diriku. Namun ada yang aneh pada saat itu, aku yang biasanya hanya memikirkan hasrat birahi, tiba-tiba kecolongan. Emosiku turut larut di ritual itu, memberikanku harapan palsu bahwa The Fifth benar-benar menyayangi dan mencintai diriku, membuat diriku merelakan diri untuk menjadi miliknya satu.
Benar-benar untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta kepada 1 pria. Namun aku lupa, aku lupa bahwa aku telah mengatakan padanya bahwa ini tak lebih dari hanya sekedar no strings attached & kenyataan bahwa perasaannya padaku hanyalah nafsu belaka membuatku melupakan segala harapan yang tadinya aku bayangkan.
Setelah 6 bulan lebih kami bersama, akhirnya dia pun menghilang. Dia seperti ditelan bumi & tertiup angin badai entah kemana. Namun meskipun dia pergi, cinta ini tetap menanti dirinya kembali (dengan atau tanpa "N"). Semoga saja :)
No comments:
Post a Comment
I am open for discussion and comments, but I will not show or reply any kind of comments which is inappropriate to the post or if it's out of context.